Change Agent dan Ujung Tombak Perubahan

0
29

Tidak dapat dipungkiri, revolusi industri telah bergerak begitu cepat. Para pelaku usaha dituntut untuk menghadapi persaingan bisnis dengan lebih optimis. Memanfaatkan peluang yang ada sebagai tantangan. Di level manajemen, beragam program untuk peningkatan kemampuan SDM pun terus digulirkan. Karena di tangan para SDM ini pula, kualitas produk dan layanan dihasilkan.

Lalu, bagaimana dengan langkah GMF dalam menciptakan SDM cakap dan menjadi agen- agen perubahan yang siap menghadapi persaingan bisnis? Untuk mengetahui apa dan bagaimana langkahnya, berikut adalah hasil perbincangan dengan Manager Learning Center Unit (Caretaker) Erwin Yulistian yang berhasil kami temui beberapa waktu lalu.

BISA DIJELASKAN, APA YANG DILAKUKAN GMF DALAM MENGHADAPI DISRUPTION ERA?

Secara internal, GMF terus menyiapkan SDM dengan kemampuan dan memiliki kepemimpinan. Kami menyebutnya sebagai Change Agent. Mereka (Change Agent) ditunjuk oleh dinasnya untuk mewakili leaders-nya sebagai contoh bagi lingkup Dinasnya atas implementasi kegiatan dan program-program perusahaan.

Change Agent adalah orang-orang yang bisa mengubah budaya menjadi lebih baik. Selain harus menjadi role model dan memiliki leadership, sebagai Change Agent, mereka harus memiliki Action Plan. Dengan begitu seluruh karyawan atau rekan-rekannya di dalam Dinas paham kemana dan apa saja yang harus mereka lakukan dalam jangka waktu tertentu.

Artinya, karyawan ikut berpartisipasi dalam implementasi rencana masing- masing Dinas. Contohnya adalah Dinas TL yang menggulirkan agenda Sharing Session setiap Jum’at pagi. Sharing Session-nya itu bisa seputar apapun terkait dengan pekerjaan, safety maupun pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing karyawan.

BAGAIMANA POSITIONING CHANGE AGENT TERHADAP DEMOGRAFI KARYAWAN GMF YANG DIDOMINASI OLEH GENERASI MILENIAL?

Saat ini setidaknya 80% karyawan GMF didominasi oleh generasi milenial. Ada banyak semangat dan ide-ide segar dari generasi ini yang harus dikolaborasi dengan generasi seniornya.

Nah, dari situ pihak manajemen menilai perlunya mitra yang bisa diterima oleh masing-masing generasi. Seperti yang kita ketahui bahwa antara milenial dengan kolonial kan memiliki cara pandang dan kebiasaan yang berbeda. Singkat cerita, Change Agent lah yang harus mampu menjembatani atau mengkombinasi program yang bisa diterima oleh kaum milenial maupun kolonial.

APA SAJA KENDALA YANG DIHADAPI SEORANG CHANGE AGENT DALAM SOSIALISASI PERUBAHAN BUDAYA KERJA KEPADA PARA KARYAWAN?

Kendala yang sering ditemui adalah ketika merubah yang nyaman menjadi resistant. Karena sebagai Change Agent, ia tak hanya menyerukan perubahan, tapi juga harus mengukur ke arah bisnisnya. Jadi ketika sebuah pesawat telah selesai diperbaiki, rekan-rekan teknisi juga memiliki inisiatif untuk membersihkan. Daripada perusahaan mengeluarkan anggaran lebih untuk bayar Cleaner, lebih baik digunakan untuk hal lain dan bisa dirasakan oleh karyawan.

ADAKAH PEMBERIAN SANKSI JIKA PROGRAM YANG DIJALANKAN OLEH CHANGE AGENT INI TIDAK DIPATUHI PARA KARYAWAN?

Ada berbagai alasan yang melatarbelakangi suatu pelanggaran. Tapi yang pasti kita mengajak Supervisor dan Manajer untuk meningkatkan kedisiplinan tiap personelnya. Kalau program sanksi, hanya disampaikan ke Leader-nya saja. Change Agent lebih kepada memberi contoh positif ke teman-teman. Kita bikin program yang lebih kepada ajakan nyata.

HINGGA SAAT INI PROGRAM APA YANG MENJADI FOKUS UTAMA GMF?

Saat ini kami tengah melaksanakan program grooming and hospitality. Tujuannya adalah bahwa kami ingin mengajak para personel GMF hidup sehat dan berpenampilan rapi terutama dari sisi penampilan. Khususnya pada personel frontliner yang bertugas di Apron. Penampilan yang rapi dan bersih tentu akan meningkatkan citra perusahaan pula.

Erwin Yulistian

Manager Learning Center Unit (Caretaker)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here